Ben Hur

Ben Hur adalah film yang berlatar belakang penjajahan kerajaan Romawi kepada orang Israel dan orang Israel hidup dalam penderitaan akibat penjajahan itu. Hal yang menarik dalam film ini, yang menjadi daya tarik saya menonton film ini, adalah adanya tokoh Yesus Kristus. Yah…cerita film ini berlangsung di masa Yesus Kristus hidup dan sedang melayani di dunia.
Dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita tentang Yesus Kristus. Tapi saya akan bercerita tentang Kisah Pengampunan Yang Datang Terlambat.

Secara singkat film ini bertokoh utama seorang pemuda Yahudi bernama Ben Hur, yang ingin membalas dendam kepada Messala, pemuda keturunan Romawi yang diangkat menjadi anak oleh keluarga Ben Hur. Messala berbalik melawan Ben Hur untuk menjaga kehormatan Romawi. Messala menangkap Ben Hur dan mengirimkannya ke kapal Romawi untuk menjadi pekerja paksa mendayung kapal Romawi. Ben Hur mengalami penderitaan kerja paksa selama 5 tahun hingga akhirnya ia berhasil bebas setelah kapal itu kandas di laut akibat pertempuran melawan Pasukan Yunani.

Ben Hur kembali ke kota asalnya, Yerusalem. Ia mau mencari ibu dan adik perempuannya yang juga ikut ditangkap oleh pasukan Romawi. Ben Hur tidak menemukan mereka dan menyimpulkan kalau tentara Romawi sudah membunuh ibu dan adiknya. Ben Hur ingin membalas dendam dan mencurahkan seluruh kebenciannya kepada Messala, orang yang ia pikir bertanggung jawab atas penderitaannya selama ini, dan atas kematian Ibu dan adik perempuannya (Sebenarnya Ibu dan adik perempuan Ben Hur masih hidup. Mereka tidak dibunuh. Mereka dimasukkan ke dalam penjara). Ben Hur mengikuti perlombaan kereta kuda di tempat bernama Circus, arena pertandingan tanpa aturan. Ia berhasil mengalahkan Messala pada pertandingan itu.

Ben Hur sudah mendapatkan pembalasan dendam yang ia inginkan. Ia juga sudah mewujudkan kebencian yang ada di dalam dadanya selama ini. Tetapi setelah itu, ia merasa kosong, seakan-akan semua itu tidak ada artinya dan tidak memberikan kedamaian dan kebahagiaan yang ia cari-cari. Sampai akhirnya ia melihat peristiwa penyaliban Yesus Kristus. Yesus, yang walaupun diperlakukan tidak adil bisa mengampuni orang-orang yang telah memfitnahNya, memukulNya, mencambukNya dan menghinaNya. Ben Hur pun pergi mencari Messala. Akhirnya kedua berdamai, saling mengampuni dan selanjutnya hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan.

Berbicara tentang pengampunan tidaklah mudah, apalagi memberikan pengampunan, jauh lebih sulit. Saya sendiri masih banyak belajar mengenai pengampunan. Walalupun saya sudah tahu tidak ada kedamaian dan ketenangan jiwa ketika saya memilih sikap tidak mengampuni. Bahkan jika pada akhirnya kita merasakan kemenangan atas pembalasan dendam yang sudah terwujud, kita akan merasa kosong. Ingat, Ben Hur sendiri mengalami hal yang sama. Ia melampiaskan dendam dan kebenciannya, baru setelah itu ia menyesal dan menyadari tidak ada gunanya tidak mengampuni. Kesimpulannya adalah manusia sulit untuk mengampuni.

Ada yang bilang pengampunan atau mengampuni cuma masalah pilihan. Kalau kiga mau mengampuni, yah kita pasti bisa. Seperti berita tentang pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene di daerah Samarinda. Seorang ayah yang anaknya meninggal  (Intan Olivia usia 2,5 tahun) karena pelemparan bom molotov itu mengatakan bahwa ia tidak lagi memendam dendam kepada orang yang telah menyebabkan anaknya meninggal dunia. Cerita tentang pengampunan bisa kita lihat dari kisah Nelson Mandela. Nelson Mandela dipenjara selama 25 tahun oleh lawan politiknya. Selama berada dipenjara, salah seorang sipir menyiksanya, bahkan menggantung terbalik dirinya dan mengencinginya. Nelson Mandela hanya bisa berkata “tunggu saatnya”. Begitu bebas dari penjara dan menjadi Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela menyuruh ajudannya mencari sipir tersebut. Si sipir begitu ketakutan bertemu Nelson Mandela. Ia mengira Nelson Mandela akan menbalas kejahatan yang ia pernah lakukan. Namun yang terjadi malah sebaliknya, bukannya menerima siksaan, Nelson Mandela justru memeluknya dan berkata “Hal pertama yg ingin saya lakukan ketika menjadi presiden adalah MEMAAFKAN MU “.

Victor Frankl, seorang yang pernah merasakan kejamnya penjara kamp konsentrasi Nazi, mengatakan bahwa antara stimulus dan respon terdapat sebuah ruang, dan di ruangan itu terdapat kekuatan dan kebebasan kita. Seringkali kita bereaksi tanpa berpikir terlebih dulu. Sehingga stimulus dari luar menjadi yang menentukan apa yang akan kita lakukan. Bila stimulusnya negatif maka kita berespon negatif juga. Bila stimusnya positif maka kita berespon positif. Sehingga kita menjadi budak dari stimulus yang datang. Kita dikendalikan oleh apa yang ada diluar diri kita.

Sebenarnya kita bisa tidak mengikuti begitu saja stimulus yang datang. Kita punya kuasa untuk memilih respon yang akan kita tampilkan. Jika kita dapat memanfaatkan kuasa itu maka kita akan menjadi tuan atas stimulus tersebut. Lalu bagiamana caranya agar kita dapat mengendalikan respon kita terhadap stimulus yang datang?
Tulisan yang saya baca dari website Psychology Today memberikan tips berikut :

  1. Pikirkan anda ingin menjadi orang yang seperti apa. Apabila anda mudah marah disaat kondisi tertentu, maka coba bayangkan anda ingin orang seperti apa dalam kondisi itu. Buatlah gambaran yang jelas mengenai sosok orang yang anda inginkan itu.
  2. Pikirkan dari mana asal reaksi anda. Ketika  dalam kondisi tertentu anda terpancing menjadi marah, maka anda perlu mencari tahu mengapa anda marah. Apakah kemarahan itu berasal dari pengalaman masa lalu yang membentuk anda sehingga berespon seperti itu. Cara tahu dari mana asal reaksi anda, dan sadari bahwa anda bisa memilih reaksi tanpa harus terikat dengan pengalaman masa lalu.
  3. Perhatikan apa hasil dari reaksi anda. Apabila reaksi anda membawa dampak yang negatif maka anda jangan melakukannya lagi karena itu akan merugikan diri anda sendiri.
  4. Bayangkan respon yang lebih baik. Latihlah diri anda membayangkan respon positif terhadap stimulus yang biasanya membuat anda memberi respon negatif. Rasakan dampak positif yang muncul ketika anda melakukan respon positif tersebut.
  5. Beri kesempatan pada diri anda untuk mempelajari keahlian baru ini. Anda sedang merubah diri anda agar menjadi lebih baik. Maka karena itu, jangan terlalu keras pada diri anda saat mempelajari keahlian baru ini yaitu menjadi lebih berespon positif. Lakukan dengan sabar. Jika anda gagal, coba lagi dan coba lagi.

Saya rasa tips diatas bisa membantu kita untuk belajar mengampuni kesalahan orang lain sehingga kita tidak perlu baru sadar pentingnya pengampunan setelah nasi sudah menjaadi bubur. Ben Hur masih beruntung, ia masih bisa berdamai dengan Messala setelah Ben Hur puas membalaskan dendamnya. Tapi tidak semua orang bisa seberuntung Ben Hur. Jadi tunggu apa lagi, mari mengampuni sebelum kita menghancurkan diri kita sendiri. Walaupun mengampuni itu terasa sulit yah Tuhan.

Keterangan Film

Judul : Ben Hur

Sutradara : Timur Bekmambetov

Tahun : 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s